Di sebuah sudut kecil di Kelurahan Sobo, Banyuwangi, ada kisah tentang kepedulian yang sederhana, namun memiliki makna yang begitu dalam. Kisah itu bermula ketika Sertu Didik Budi Prasetyo, bersama Lurah Sobo, Yudi Setiawan, memutuskan untuk meluangkan waktu di tengah padatnya aktivitas. Bukan untuk rapat, bukan untuk acara seremonial, tetapi untuk sesuatu yang lebih manusiawi: menjenguk seorang warga yang sedang sakit.
Siang itu, matahari tak begitu terik. Angin kecil berhembus melewati pepohonan yang menaungi rumah sederhana tempat warga tersebut dirawat. Saat kedua aparat itu melangkah masuk, suasana hening tiba-tiba terasa hangat. Kehadiran mereka membawa rasa tenang bagi keluarga yang sudah berminggu-minggu diliputi kekhawatiran.
Di dalam rumah, pasien terbaring lemah. Namun matanya berbinar saat melihat tamu yang tidak disangka akan hadir. Kunjungan itu bukan sekadar formalitas. Ada tatapan-tatapan yang penuh perhatian, ada senyum, ada sentuhan ringan di tangan, dan ada kalimat sederhana yang mampu menggugurkan air mata.
“Kami datang bukan hanya sebagai aparat,” ucap Lurah Yudi Setiawan dengan suara lembut.
“Kami datang sebagai keluarga. Kami ingin memastikan bahwa Anda tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.”
Kata-kata itu menembus ruang yang hening—menginjak perasaan keluarga yang sejak awal terus menahan beban. Di sudut ruangan, seorang anggota keluarga tampak mengusap matanya. Ada rasa haru yang tidak bisa disembunyikan.
Sertu Didik Budi Prasetyo, yang dikenal tegas ketika bertugas, memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Ia duduk dekat pasien, menggenggam tangan warga itu, lalu berbicara dengan penuh ketulusan.
“Kami semua mendoakan yang terbaik. Tetap kuat. Tetap semangat. Kami di sini mendukung.”
Bagaimana pun, sakit bukan hanya persoalan fisik. Ada masa ketika seseorang tidak hanya membutuhkan obat—tetapi membutuhkan kehadiran. Butuh rasa bahwa dirinya penting. Bahwa rasa sakitnya dipahami. Bahwa ia tidak ditinggalkan.
Dan hari itu, kehadiran Sertu Didik dan Lurah Yudi menjadi bentuk nyata dari kehangatan itu.
Keluarga pasien kemudian bercerita tentang perjuangan yang mereka lalui. Tentang malam-malam panjang tanpa tidur, tentang rasa takut akan sesuatu yang belum pasti, tentang bagaimana mereka mencoba tetap kuat meski lelah menggerogoti. Mendengarkan cerita itu, Sertu Didik dan Lurah Yudi hanya mengangguk, sesekali menepuk bahu keluarga sebagai tanda bahwa beban itu kini tidak lagi ditanggung sendiri.
Di tengah percakapan, suasana berubah menjadi haru ketika pasien mencoba tersenyum meski tubuhnya lemah. Senyum itu sangat pelan—namun cukup untuk membuat ruangan itu penuh rasa syukur.
Kunjungan itu berakhir setelah beberapa waktu. Namun kesannya tidak. Saat mereka hendak pamit, keluarga kembali menahan air mata.
“Terima kasih sudah datang… Kami merasa lebih kuat,” ucap salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar.
Di luar rumah, suasana seolah ikut berubah. Matahari tampak lebih hangat, angin terasa lebih lembut. Mungkin karena hati yang tadi berat kini sedikit lebih ringan.
Kepedulian memang tidak bisa menghilangkan penyakit dalam sekejap. Tapi kepedulian dapat memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh obat: harapan.
Dan hari itu, di Kelurahan Sobo, harapan itu dibawa oleh dua orang yang memahami bahwa tugas seorang aparat tidak berhenti pada administrasi atau keamanan. Ada tugas lain yang jauh lebih mulia:
menjadi manusia yang hadir untuk manusia lain.(Pen01)
