Rumah Ini Kini Menjadi Tempat Anak-Anaknya Bertahan Wawancara Haru Danramil 0825/01 Banyuwangi di Rumah Almarhumah Ibu Hairiyah

Banyuwangi. Langkah rombongan itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana di wilayah Koramil 0825/01 Banyuwangi. Rumah itu tampak lebih sunyi dari lingkungan sekitarnya. Tak ada sosok ibu yang dulu menyambut dengan senyum lirih. Tak ada suara lembut yang biasa mengucap terima kasih dengan mata berkaca-kaca.
Rumah itu adalah rumah almarhumah Ibu Hairiyah.
Kini, rumah tersebut ditempati oleh anak-anaknya—mereka yang melanjutkan hidup, membawa kenangan, dan menyimpan luka kehilangan.

Hari itu, Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Rumah Tinggal Layak Huni (RUTILAHU), hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya, menerima kunjungan dari Tim Monev RUTILAHU Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur. Salah satu sasaran yang dikunjungi adalah rumah almarhumah Ibu Hairiyah.

Di hadapan rumah itu berdiri Danramil 0825/01 Banyuwangi, Kapten Czi Sahar Susanto. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang dalam—rasa tanggung jawab, kepedulian, dan keheningan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.
Saat diwawancarai, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Rumah ini dulu kami datangi bersama almarhumah Ibu Hairiyah,” ujarnya perlahan.

“Sekarang beliau sudah tidak ada… tapi rumah ini tetap kami kunjungi. Karena di sinilah anak-anaknya bertahan hidup.”
Ia berhenti sejenak. Menarik napas.
“Program RUTILAHU bukan hanya soal bangunan. Di balik setiap rumah ada cerita hidup, ada perjuangan, dan terkadang ada kehilangan,” lanjutnya.

Kapten Czi Sahar Susanto menjelaskan bahwa sejak awal Koramil 0825/01 Banyuwangi bersama Babinsa telah mendampingi proses pendataan dan pengusulan RUTILAHU. Ibu Hairiyah adalah salah satu warga yang benar-benar membutuhkan. Hidup dalam keterbatasan, namun tetap menjalani hari dengan kesabaran yang luar biasa.

“Kami tahu kondisi beliau. Kami tahu bagaimana beliau bertahan. Dan ketika bantuan ini akhirnya sampai… Allah berkehendak lain,” ucapnya lirih.
Kini, rumah itu ditempati oleh anak-anak almarhumah. Dindingnya menjadi saksi bisu perubahan peran—dari tempat seorang ibu berjuang, menjadi tempat anak-anaknya melanjutkan hidup tanpa sosok yang paling mereka rindukan.

“Setidaknya,” kata Kapten Sahar dengan suara yang mulai berat,
“anak-anaknya tidak lagi harus tinggal di rumah yang tidak layak. Ini mungkin bukan kebahagiaan yang sempurna, tapi ini adalah bentuk kehadiran negara yang tidak ingin meninggalkan mereka.”
Tim Monev Provinsi Jawa Timur melakukan pengecekan dengan penuh kehati-hatian. Tidak ada nada formal yang kaku. Semua terasa lebih manusiawi.

Setiap sudut rumah diperiksa, bukan hanya dengan pandangan profesional, tetapi dengan rasa hormat terhadap kisah hidup yang pernah tumbuh di dalamnya.
Bagi Kapten Sahar, momen ini menjadi pengingat yang mendalam.
“Sebagai aparat teritorial, kami tidak hanya melihat data. Kami melihat manusia. Dan kadang, kami harus menerima kenyataan bahwa tidak semua perjuangan bisa selesai tepat waktu,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya melalui program RUTILAHU adalah wujud nyata kepedulian negara. Namun ia juga berharap, ke depan program seperti ini dapat menjangkau masyarakat lebih cepat, agar tak ada lagi harapan yang datang setelah seseorang pergi.

“Kami tidak ingin rumah-rumah layak huni hanya menjadi kenangan bagi mereka yang sudah tiada,” katanya dengan nada jujur.
“Kami ingin mereka merasakannya saat masih ada.”
Di akhir wawancara, Kapten Sahar menunduk sejenak, memandang rumah itu.

“Semoga almarhumah Ibu Hairiyah tenang di sisi Tuhan. Dan semoga rumah ini menjadi tempat anak-anaknya tumbuh dengan lebih aman, lebih layak, dan penuh harapan,” tutupnya.

Tak ada tepuk tangan.
Tak ada seremoni.
Yang tertinggal hanyalah rasa
bahwa di balik seragam dan jabatan, ada hati yang ikut terluka, ikut berharap, dan tetap memilih untuk peduli.(Pen01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *